SEPENGGAL KISAH
BAB 1
Aku terbangun dari tidur nyenyakku
menyadari ada yang berbaring di sampingku. Ini dia kembaranku, tapi beda jauh
wajahnya dengan wajah barbieku. Kenapa Barbie? Karena aku memang sangat mirip
dengan boneka cantik itu. Alis tebalku, bulu mata lentikku, iris mata biruku,
hidung mancungku, pipi chubbyku, bibir tipis yang selalu merah merona tanpa
polesan lipstick atau lipgloss, dan kulit putih diluar orang normal. Papi
memang keturunan campuran, jadi wajahku sedikit kebule-bulean. Sedangkan yang
berbaring disampingku ini adalah saudara kembarku, Beni Haken Abraham.
Laki-laki dengan rambut kecoklatan ala artis korea, mata sipit, kulit putih,
dan wajah tampan mempesonanya.
“Ces,
lho mau bantu gue?” Tanya Beni dengan puppy eyesnya. Aku selalu sebal setiap
dia menunjukkan itu.
“Bantuin
apa?” aku duduk dan menanggapinya cuek.
“Kenal
Syifa nggak?” dia duduk disampingku dengan wajah berbinar. Oke, radar
keplayboyannya salah sasaran kali ini.
“Lho
mau jadiin dia target Ben? Dia anaknya alim lho.” Aku serius menanggapi
sifatnya kali ini. Masalahnya, Syifa adalah gadis alim dengan jilbab yang
selalu melekat di kepalanya. Denger-denger, dia keturunan orang Arab gitu.
Pastinya cantik, dengan mata hitam legam dan tatapan tajamnya membuat semua
lelaki memujanya, ingat! Hanya memuja, karena takut dengan matanya. “Gue mau
nyoba aja Cessa cantik.” Beni tersenyum penuh arti padaku.
“Gue
kenalin nanti.” Aku beranjak ke kamar mandi untuk siap-siap ke kampus pagi ini.
Sambil mandi, aku ceritakan tentang istanaku ini. Papiku, Izama Abraham adalah
seorang lelaki tampan yang memiliki perusahaan yang bekerja di bidang desain
grafis. Semacam mendesain berbagai bangunan yang dipesan klien. Dia adalah papi
yang sangat protectif, aku sebagai putri satu-satunya harus rela didampingi
seorang bodyguard muda yang umurnya baru 25 tahun dengan nama Rubby. Berbeda
jauh dengan mamiku, dia bernama Airi Abraham. Mamiku adalah wanita paling
cantik dan sabar sedunia. Dia tidak pernah marah denganku atau Beni yang senang
membuat ulah. Tidak jarang dia harus pergi ke kampus karena menerima panggilan
dari dosen akibat kejailanku. Rumahku, tentu saja sangat besar. Tapi jangan
berfikir desainnya berupa bangunan ala Eropa atau mana saja, luar negeri
maksudku. Rumahku adalah rumah bertingkat tiga dengan semua bagian rumah
dibangun dari kayu, termasuk lantai yang selalu aku injak ini. Semua ruangan
dipenuhi dengan ukiran-ukiran indah seperti keraton. Berbagai tumbuhan dan
bunga menghiasi setiap ruangan cantik ini. Di bagian paling bawah, ada ruang
tamu, ruang makan, dapur, dua kamar mandi, tak lupa juga ruang kerja papi.
Kenapa paling bawah? Karena di lantai dasar sepi, jarang ada yang berkegiatan
disana. Lantai dua, ada kamar utama alias kamar papi dan mamiku. Juga ruang
keluarga tempat kami berkumpul, dan dua kamar tidur yang ditempati oleh dua
sahabatku. Mereka adalah Luna dan Kiya, anak sahabat papi yang rumahnya ada di
Jakarta. Kalian belum tau ya? Rumahku ini terletak di Bandung. Dilantai dua juga
ada ruangan khusus kami anak-anak muda. Ruang gim, ruang music, dan ruang
belajar dengan perpustakaan kecil di dalamnya. Lantai ketiga, kalian pasti tau.
Tiga kamar khusus untuk anak tersayang. Tentu saja kamarku, kamar Beni, dan
kamar khusus karyaku dan Beni. Disetiap kamar tidur dilengkapi dengan kamar
mandi dan perlengkapan yang kami butuhkan. Sekarang, aku jelaskan tentang
kuliah. Aku mengambil jurusan desainer, tapi tidak jarang juga ikut di kelas
arsitek. Kenapa diperbolehkan? Karena 80% pemegang dana terbesar kampusku
adalah papi. Beni, dia kuliah jurusan kedokteran. Dia ingin menjadi dokter anak
dan psikolog. Entahlah bagaimana cara dia memilih nanti, katanya dia hanya
perlu siap di dua bidang itu. Dia juga pintar menggambar, bahkan, desain rumah
masa depannya sudah terpasang rapi di dinding kamar khusus dilantai tiga. Rumah
masa depanku juga sudah ku gambar, tinggal membangunnya. Aku lupa, disetiap
kamar menggunakan kunci berkode. Jadi, kalau dikunci hanya pemiliknya saja yang
bisa masuk. Lanjut, Luna, sahabatku yang bawel dan memiliki tingkat kePDan
tinggi itu mengambil jurusan dokter kandungan. Entahlah, mungkin kalau ada yang
melahirkan akan dia ajak senam poco-poco. Dan Kiya, dia mengambil jurusan
sekretaris. Tidak heran, dia memiliki postur tubuh tinggi dengan badan
proporsional bak model. Cantik, pasti. Tapi tetap, Cessa Liana Abraham nomor
satu. Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa, meninggalkan kamarku yang penuh
dengan mawar hitam dan putih. Bunga kesukaanku adalah dua bunga itu. Dan kalian
tau apa bunga yang paling kubenci? Mawar merah.
“Ayo
sarapan semua!” teriakan mami menggelegar di rumah kami.
“Tan,
bangun jam berapa tadi?” Tanya Luna yang sudah bertengger manis di samping
Kiya.
“Jam
tiga pagi. Kenapa?” Tanya papi tanpa mengalihkan pandangan dari gadged
canggihnya yang selalu tau setiap gerak-gerik seluruh penghuni rumah itu.
“Om
juga jam segitu?” lanjut Kiya yang kuyakini tidak tau arah pembicaraan Luna,
dia sedikit lola.
“Satu
jam lebih siang, jam empat.” Papi menyeruput teh melatinya.
“Kenapa?
Kalian mau bantu mami masak?” aku duduk di samping Beni yang hanya
mendengarkan.
“Yang
ada, gue lho cekik entar. Dapur kesayangan lho itu bakal jadi pesawat rusak.”
Luna cekikikan. Aku menatap Luna tajam, awas saja kalau itu sampai terjadi.
Dapur adalah ruangan favorit keduaku setelah kamar tidurku. Dapur di desain
dengan hiasan gambar mawar putih dan hitam karena aku sangat suka memasak.
“Lho
harus bisa masak Lun, suami lho nanti makan apa?” Kiya memulai ceramah paginya.
“Kan
ada ART? Buat apa pusing masak?” jawab Luna santai. Aku terkikik pelan melihat
wajah Kiya pahit.
“Udah.
Ngobrolnya dilanjutin nanti lagi.” Mami menengahi percakapan panas kami.
“Pi? Rubby udah makan belum?” tanyaku
pada papi yang akan berangkat kerja. Semua pegawai di rumahku tinggal di paviliun
yang sudah disediakan papi.
“Udah.
Kamu berangkat kapan?” papi mencium keningku singkat, kebiasaannya sebelum
berangkat kerja.
“Nanti
jam delapan.” Aku berjalan ke depan rumah dan menemukan Kiya serta Luna yang
sedang tertawa di bangku taman bunga kami.
“Ngobrolin
apaan? Seru amat.” Aku langsung duduk diantara mereka yang mengomel tidak
jelas.
“Lho
tau Ces? Robi ngajak gue kenalan.” Luna tersenyum dengan wajah pdnya. Robi Daia
Wijaya, sahabat Beni yang selalu ramah pada siapa saja. Tapi, belum memiliki
pacar karena dia jarang berkenalan dengan wanita, termasuk aku dan dua
sahabatku ini. Dia adalah idola kampus setelah kakak angkatan kami yang tidak
kuketahui nama dan wajahnya.
“Terus?”
tanyaku cuek.
“Dia
ramah banget Ces.” Luna makin bersemangat. Bukannya Robi selalu begitu? Ramah
pada setiap orang.
“Bukannya
Robi selalu ramah sama siapa aja?” Tanya Kiya bloon, dia tidak paham situasi,
tidak mengerti kalau sahabatnya ini sedang kasmaran dan terlalu pd.
“Ya
emang. Tapi, gue jarang lihat dia senyum ke cewek.” Luna masih yakin pada
pendiriannya.
“Gue
juga pernah disenyumin Lun.” Kiya menjulurkan lidahnya. Aku tertawa keras
mendengar ocehan Kiya.
“Ayo
berangkat. Nanti pasti macet dijalan.” Aku berdiri dan berjalan memasuki mobil
ala artis hollywood yang panjangnya sepuluh meter itu. Tapi tenang, ini mobil
khusus yang dipesan papi, jadi tidak sepanjang biasanya.
****
Luna berjalan bersemangat di depanku
dan Kiya. “Hai?” sapa Robi yang tiba-tiba muncul di depan kami dengan senyum
mautnya.
“Ha..
Hai Robi.” Jawab Luna gugup.
“Lho
belum sarapan Lun? Kok gagap gitu?” Robi bertanya masih dengan senyumnya. Aku
dan Kiya terkikik pelan menyadari ketidak pekaan lelaki di depannya ini.
“Udah
kok. Malah habis dua piring.” Celetukku membuat Robi menoleh kepadaku. Dia
terdiam cukup lama, terpesona mungkin? Hari ini aku memakai rok hitam balon
dengan bulatan putih menghiasi setiap bagiannya, kaos putih dengan gambar bunga
mawar yang seperti sketsa, dan juga kalung hitam dengan besi yang menonjol
kecil-kecil melekat di leherku tanpa ada ruang. Tapi aku bukan anjing, rambut
hitam sepinggang ku gerai bebas dengan polesan make up tipis. Semua pakaianku
memang didominasi warna hitam dan putih.
“Ehh,
kok gue nggak pernah lihat? Kenalin, Robi.” Robi mengulurkan tangannya padaku
sehingga membuat Luna menghapus senyum manis dari wajahnya.
“Dia
Cessa.” Luna menurunkan tangan Robi yang diulurkan padaku.
“Cessa?
Kembaran Beni?” Robi menanyaiku sok akrab.
“Seperti
yang lho denger. Gue duluan.” Aku melangkahkan kaki menuju kelas desainer yang
bersatu menjadi satu gedung dengan jurusan arsitek dan kesenian. Kesenian yang
kumaksud adalah melukis. Aku juga tidak jarang mengikuti kelas itu, karena aku
sangat senang menggambar. Bahkan, desain kamar, aku yang buat. Rumah ala keraton
itu memang dibuat ketika aku dan Beni sekolah di Paris, jaman SMP dulu.
“Assalamualaikum
Cessa?” sapa Syifa yang sudah mensejajari langkahku. “Walaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh.” Aku tersenyum ramah, dia yang mengajariku menjawab
salam dengan lengkap. Katanya, jangan pelit ngedoain orang karena salam itu
doa.
“Baru
berangkat ya?” Tanya Syifa sambil memainkan kerudung hitamnya. Kami sama,
menyukai warna hitam putih. Aku tau saat masa ospek, setiap peserta harus
memakai kaos kaki sesuai warna kesukaannya, dan aku melihat dia memakai sama
sepertiku. Dia juga suka mendesain, tapi baju muslim bukan sepertiku yang lebih
ke pakaian biasa tapi sopan.
“Iya
Fa. Lho juga?” tanyaku sambil duduk di depan kelas menunggu dosen datang.
“Aku
udah lama Ces. Tapi dijalan, dihadang sama Beni, playboy kampus itu.” Syifa
terlihat sebal, kalau Beni tau dia pasti akan sedikit kecewa. Tapi kalian taukan?
Lelaki akan semakin berjuang kalau sudah ditolak.
“Dia
gangguin lho?” aku sedikit memancing Syifa, ingin tau seberapa besar Beni sudah
pdkt dengan gadis arab di depanku ini.
“Nggak
kok. Dia sopan sama aku, tapi aku sedikit nggak suka kalau lihat dia dideketin
sama cewek dan malah ditanggapi.” Syifa bercerita ria tanpa memperhatikan
sekitar, sebenarnya Beni berdiri di samping kami dengan seorang cowok yang
tidak aku kenal.
“Gue
masih berusaha berubah Syif, lho harus nunggu gue.” Beni berkata dengan wajah
sendunya.
“Eh?”
Syifa tidak mengerti, apa Beni menyukainya? Dia jadi bingung sendiri. “Ces, ini
guru privat lho.” Beni menunjuk lelaki di sampingnya. Tunggu… tunggu… Guru
privat? Apa maksudnya? Seingatku, aku tidak meminta guru privat?
“Maksud
lho?” tanyaku dengan wajah bloon.
“Papi
yang nyuruh nyariin. Katanya, biar lho lebih bisa arsiteknya.” Jawab Beni tanpa
beban. Terasa terkena petir di siang hari, ini awal penderitaan bagiku. Melihat
gurunya saja sudah membuatku bosan. Dia tidak tersenyum sama sekali, wajahnya
sedingin es di kutub utara. bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar