Rabu, 04 November 2015

Ini adalah post pertamaku.. tolong dibaca ya..

SEPENGGAL KISAH
BAB 1
          Aku terbangun dari tidur nyenyakku menyadari ada yang berbaring di sampingku. Ini dia kembaranku, tapi beda jauh wajahnya dengan wajah barbieku. Kenapa Barbie? Karena aku memang sangat mirip dengan boneka cantik itu. Alis tebalku, bulu mata lentikku, iris mata biruku, hidung mancungku, pipi chubbyku, bibir tipis yang selalu merah merona tanpa polesan lipstick atau lipgloss, dan kulit putih diluar orang normal. Papi memang keturunan campuran, jadi wajahku sedikit kebule-bulean. Sedangkan yang berbaring disampingku ini adalah saudara kembarku, Beni Haken Abraham. Laki-laki dengan rambut kecoklatan ala artis korea, mata sipit, kulit putih, dan wajah tampan mempesonanya.
“Ces, lho mau bantu gue?” Tanya Beni dengan puppy eyesnya. Aku selalu sebal setiap dia menunjukkan itu.
“Bantuin apa?” aku duduk dan menanggapinya cuek.
“Kenal Syifa nggak?” dia duduk disampingku dengan wajah berbinar. Oke, radar keplayboyannya salah sasaran kali ini.
“Lho mau jadiin dia target Ben? Dia anaknya alim lho.” Aku serius menanggapi sifatnya kali ini. Masalahnya, Syifa adalah gadis alim dengan jilbab yang selalu melekat di kepalanya. Denger-denger, dia keturunan orang Arab gitu. Pastinya cantik, dengan mata hitam legam dan tatapan tajamnya membuat semua lelaki memujanya, ingat! Hanya memuja, karena takut dengan matanya. “Gue mau nyoba aja Cessa cantik.” Beni tersenyum penuh arti padaku.
“Gue kenalin nanti.” Aku beranjak ke kamar mandi untuk siap-siap ke kampus pagi ini. Sambil mandi, aku ceritakan tentang istanaku ini. Papiku, Izama Abraham adalah seorang lelaki tampan yang memiliki perusahaan yang bekerja di bidang desain grafis. Semacam mendesain berbagai bangunan yang dipesan klien. Dia adalah papi yang sangat protectif, aku sebagai putri satu-satunya harus rela didampingi seorang bodyguard muda yang umurnya baru 25 tahun dengan nama Rubby. Berbeda jauh dengan mamiku, dia bernama Airi Abraham. Mamiku adalah wanita paling cantik dan sabar sedunia. Dia tidak pernah marah denganku atau Beni yang senang membuat ulah. Tidak jarang dia harus pergi ke kampus karena menerima panggilan dari dosen akibat kejailanku. Rumahku, tentu saja sangat besar. Tapi jangan berfikir desainnya berupa bangunan ala Eropa atau mana saja, luar negeri maksudku. Rumahku adalah rumah bertingkat tiga dengan semua bagian rumah dibangun dari kayu, termasuk lantai yang selalu aku injak ini. Semua ruangan dipenuhi dengan ukiran-ukiran indah seperti keraton. Berbagai tumbuhan dan bunga menghiasi setiap ruangan cantik ini. Di bagian paling bawah, ada ruang tamu, ruang makan, dapur, dua kamar mandi, tak lupa juga ruang kerja papi. Kenapa paling bawah? Karena di lantai dasar sepi, jarang ada yang berkegiatan disana. Lantai dua, ada kamar utama alias kamar papi dan mamiku. Juga ruang keluarga tempat kami berkumpul, dan dua kamar tidur yang ditempati oleh dua sahabatku. Mereka adalah Luna dan Kiya, anak sahabat papi yang rumahnya ada di Jakarta. Kalian belum tau ya? Rumahku ini terletak di Bandung. Dilantai dua juga ada ruangan khusus kami anak-anak muda. Ruang gim, ruang music, dan ruang belajar dengan perpustakaan kecil di dalamnya. Lantai ketiga, kalian pasti tau. Tiga kamar khusus untuk anak tersayang. Tentu saja kamarku, kamar Beni, dan kamar khusus karyaku dan Beni. Disetiap kamar tidur dilengkapi dengan kamar mandi dan perlengkapan yang kami butuhkan. Sekarang, aku jelaskan tentang kuliah. Aku mengambil jurusan desainer, tapi tidak jarang juga ikut di kelas arsitek. Kenapa diperbolehkan? Karena 80% pemegang dana terbesar kampusku adalah papi. Beni, dia kuliah jurusan kedokteran. Dia ingin menjadi dokter anak dan psikolog. Entahlah bagaimana cara dia memilih nanti, katanya dia hanya perlu siap di dua bidang itu. Dia juga pintar menggambar, bahkan, desain rumah masa depannya sudah terpasang rapi di dinding kamar khusus dilantai tiga. Rumah masa depanku juga sudah ku gambar, tinggal membangunnya. Aku lupa, disetiap kamar menggunakan kunci berkode. Jadi, kalau dikunci hanya pemiliknya saja yang bisa masuk. Lanjut, Luna, sahabatku yang bawel dan memiliki tingkat kePDan tinggi itu mengambil jurusan dokter kandungan. Entahlah, mungkin kalau ada yang melahirkan akan dia ajak senam poco-poco. Dan Kiya, dia mengambil jurusan sekretaris. Tidak heran, dia memiliki postur tubuh tinggi dengan badan proporsional bak model. Cantik, pasti. Tapi tetap, Cessa Liana Abraham nomor satu. Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa, meninggalkan kamarku yang penuh dengan mawar hitam dan putih. Bunga kesukaanku adalah dua bunga itu. Dan kalian tau apa bunga yang paling kubenci? Mawar merah.
“Ayo sarapan semua!” teriakan mami menggelegar di rumah kami.
“Tan, bangun jam berapa tadi?” Tanya Luna yang sudah bertengger manis di samping Kiya.
“Jam tiga pagi. Kenapa?” Tanya papi tanpa mengalihkan pandangan dari gadged canggihnya yang selalu tau setiap gerak-gerik seluruh penghuni rumah itu.
“Om juga jam segitu?” lanjut Kiya yang kuyakini tidak tau arah pembicaraan Luna, dia sedikit lola.
“Satu jam lebih siang, jam empat.” Papi menyeruput teh melatinya.
“Kenapa? Kalian mau bantu mami masak?” aku duduk di samping Beni yang hanya mendengarkan.
“Yang ada, gue lho cekik entar. Dapur kesayangan lho itu bakal jadi pesawat rusak.” Luna cekikikan. Aku menatap Luna tajam, awas saja kalau itu sampai terjadi. Dapur adalah ruangan favorit keduaku setelah kamar tidurku. Dapur di desain dengan hiasan gambar mawar putih dan hitam karena aku sangat suka memasak.
“Lho harus bisa masak Lun, suami lho nanti makan apa?” Kiya memulai ceramah paginya.
“Kan ada ART? Buat apa pusing masak?” jawab Luna santai. Aku terkikik pelan melihat wajah Kiya pahit.
“Udah. Ngobrolnya dilanjutin nanti lagi.” Mami menengahi percakapan panas kami.
          “Pi? Rubby udah makan belum?” tanyaku pada papi yang akan berangkat kerja. Semua pegawai di rumahku tinggal di paviliun yang sudah disediakan papi.
“Udah. Kamu berangkat kapan?” papi mencium keningku singkat, kebiasaannya sebelum berangkat kerja.
“Nanti jam delapan.” Aku berjalan ke depan rumah dan menemukan Kiya serta Luna yang sedang tertawa di bangku taman bunga kami.
“Ngobrolin apaan? Seru amat.” Aku langsung duduk diantara mereka yang mengomel tidak jelas.
“Lho tau Ces? Robi ngajak gue kenalan.” Luna tersenyum dengan wajah pdnya. Robi Daia Wijaya, sahabat Beni yang selalu ramah pada siapa saja. Tapi, belum memiliki pacar karena dia jarang berkenalan dengan wanita, termasuk aku dan dua sahabatku ini. Dia adalah idola kampus setelah kakak angkatan kami yang tidak kuketahui nama dan wajahnya.
“Terus?” tanyaku cuek.
“Dia ramah banget Ces.” Luna makin bersemangat. Bukannya Robi selalu begitu? Ramah pada setiap orang.
“Bukannya Robi selalu ramah sama siapa aja?” Tanya Kiya bloon, dia tidak paham situasi, tidak mengerti kalau sahabatnya ini sedang kasmaran dan terlalu pd.
“Ya emang. Tapi, gue jarang lihat dia senyum ke cewek.” Luna masih yakin pada pendiriannya.
“Gue juga pernah disenyumin Lun.” Kiya menjulurkan lidahnya. Aku tertawa keras mendengar ocehan Kiya.
“Ayo berangkat. Nanti pasti macet dijalan.” Aku berdiri dan berjalan memasuki mobil ala artis hollywood yang panjangnya sepuluh meter itu. Tapi tenang, ini mobil khusus yang dipesan papi, jadi tidak sepanjang biasanya.
****
          Luna berjalan bersemangat di depanku dan Kiya. “Hai?” sapa Robi yang tiba-tiba muncul di depan kami dengan senyum mautnya.
“Ha.. Hai Robi.” Jawab Luna gugup.
“Lho belum sarapan Lun? Kok gagap gitu?” Robi bertanya masih dengan senyumnya. Aku dan Kiya terkikik pelan menyadari ketidak pekaan lelaki di depannya ini.
“Udah kok. Malah habis dua piring.” Celetukku membuat Robi menoleh kepadaku. Dia terdiam cukup lama, terpesona mungkin? Hari ini aku memakai rok hitam balon dengan bulatan putih menghiasi setiap bagiannya, kaos putih dengan gambar bunga mawar yang seperti sketsa, dan juga kalung hitam dengan besi yang menonjol kecil-kecil melekat di leherku tanpa ada ruang. Tapi aku bukan anjing, rambut hitam sepinggang ku gerai bebas dengan polesan make up tipis. Semua pakaianku memang didominasi warna hitam dan putih.
“Ehh, kok gue nggak pernah lihat? Kenalin, Robi.” Robi mengulurkan tangannya padaku sehingga membuat Luna menghapus senyum manis dari wajahnya.
“Dia Cessa.” Luna menurunkan tangan Robi yang diulurkan padaku.
“Cessa? Kembaran Beni?” Robi menanyaiku sok akrab.
“Seperti yang lho denger. Gue duluan.” Aku melangkahkan kaki menuju kelas desainer yang bersatu menjadi satu gedung dengan jurusan arsitek dan kesenian. Kesenian yang kumaksud adalah melukis. Aku juga tidak jarang mengikuti kelas itu, karena aku sangat senang menggambar. Bahkan, desain kamar, aku yang buat. Rumah ala keraton itu memang dibuat ketika aku dan Beni sekolah di Paris, jaman SMP dulu.
“Assalamualaikum Cessa?” sapa Syifa yang sudah mensejajari langkahku. “Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Aku tersenyum ramah, dia yang mengajariku menjawab salam dengan lengkap. Katanya, jangan pelit ngedoain orang karena salam itu doa.
“Baru berangkat ya?” Tanya Syifa sambil memainkan kerudung hitamnya. Kami sama, menyukai warna hitam putih. Aku tau saat masa ospek, setiap peserta harus memakai kaos kaki sesuai warna kesukaannya, dan aku melihat dia memakai sama sepertiku. Dia juga suka mendesain, tapi baju muslim bukan sepertiku yang lebih ke pakaian biasa tapi sopan.
“Iya Fa. Lho juga?” tanyaku sambil duduk di depan kelas menunggu dosen datang.
“Aku udah lama Ces. Tapi dijalan, dihadang sama Beni, playboy kampus itu.” Syifa terlihat sebal, kalau Beni tau dia pasti akan sedikit kecewa. Tapi kalian taukan? Lelaki akan semakin berjuang kalau sudah ditolak.
“Dia gangguin lho?” aku sedikit memancing Syifa, ingin tau seberapa besar Beni sudah pdkt dengan gadis arab di depanku ini.
“Nggak kok. Dia sopan sama aku, tapi aku sedikit nggak suka kalau lihat dia dideketin sama cewek dan malah ditanggapi.” Syifa bercerita ria tanpa memperhatikan sekitar, sebenarnya Beni berdiri di samping kami dengan seorang cowok yang tidak aku kenal.
“Gue masih berusaha berubah Syif, lho harus nunggu gue.” Beni berkata dengan wajah sendunya.
“Eh?” Syifa tidak mengerti, apa Beni menyukainya? Dia jadi bingung sendiri. “Ces, ini guru privat lho.” Beni menunjuk lelaki di sampingnya. Tunggu… tunggu… Guru privat? Apa maksudnya? Seingatku, aku tidak meminta guru privat?
“Maksud lho?” tanyaku dengan wajah bloon.

“Papi yang nyuruh nyariin. Katanya, biar lho lebih bisa arsiteknya.” Jawab Beni tanpa beban. Terasa terkena petir di siang hari, ini awal penderitaan bagiku. Melihat gurunya saja sudah membuatku bosan. Dia tidak tersenyum sama sekali, wajahnya sedingin es di kutub utara. bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar