Rabu, 04 November 2015

Lanjutan Part 1

“Namanya Angga, Angga Neon Kenward.” Beni memperkenalkan lelaki tampan di depanku ini. Apa mungkin lelaki ini yang menjadi idola kampus nomor satu?
“Dia seangkatan sama kita?” bukan apa-apa, aku takut salah memanggilnya. “Dia satu tahun di atas kita. Masa nggak tau? Idola nomor satu di kampus?” Beni tersenyum menggoda ke arahku. Benarkan tebakanku, dia memang jauh lebih tampan dari Robi tadi. Bahkan cowokku juga kalah, kalian belum ku kasih tau. Cowokku mengambil jurusan koki, Bima namanya. Kami sudah berpacaran sejak kelas dua SMA. Dia tipe cowok setia dan pengertian bagiku.
“Nggak usah pakek embel-embel. Angga aja. Setiap Hari Sabtu sampai Kamis jam enam sore.” Ucap Angga tanpa mau memandangku, sangat tidak sopan. Tadi dia bilang apa? Sabtu? Itukan berarti malam Minggu. Jadwal kencanku dengan Bima.
“Kenapa harus Sabtu? Nggak ada yang lain?” protesku tidak terima. Enak saja, kalau dia jomblo dan ngenes, jangan ajak yang lain dong.
“Gue rela ngorbanin waktu pacar gue buat lho? Impaskan?” Tanya Angga dengan menatap mataku tajam. Kuralat perkataanku tadi, lebih baik bicara tanpa menatap mataku saja. Ehh.. dia tidak jomblo ternyata. Kalau dia jomblo, aku pasti sudah pingsan. Idola nomor satu di kampus masa jomblo? Nggak asik dong.
“Yaudah.” Jawabku pasrah, aku yakin kalau papi juga pasti setuju.
“Pagi Cessa? Kamu belum masuk?” sapa Bima yang sudah muncul dihadapanku, tersenyum dengan senyum andalannya.
“Ohh iya ya Ces? Apa dosennya ijin?” sahut Syifa yang daritadi terdiam mendengar perdebatan kecilku dengan Angga, si senior jutek ini.
“Iya mungkin. Kamu nggak ada kelas Bim?” aku bertanya pada Bima yang memandang Angga dengan pandangan bertanya, siapa dia.
“Udah selesai Ces. Cuma nulis resep terus keluar. Kamu ada acara nggak setelah ini?” Bima kembali memandangku dengan tatapan datar? Kemana tatapan penuh cintanya? Ohh ayolah Cessa, berfikir positif seperti nasehat Syifa.
“Yaudah. Kita pergi dulu.” Beni dan Angga pergi meninggalkan kami bertiga. “Aku nggak ada acara. Kamu mau ajak aku jalan?” tanyaku percaya diri.
“Iya. Bisakan? Temenin aku belanja buat resep baru tadi.” Ucapan Bima sukses membuat moodku hancur berantakan. Kalau dia sudah berkutat dengan resep makanan pasti aku dilupakan.
“Oke deh. Aku masuk ya? Itu Bu Nada udah jalan kesini.” Aku tersenyum pada Bima dan mengajak Syifa masuk kelas.
****
          Aku sudah berjalan di bagian bahan kue bersama Bima. Ternyata bukan dia yang melupakan aku tapi sebaliknya. Aku sibuk sendiri sambil melihat resep di iphoneku.
“Jadi siapa yang mau masak?” sindir Bima membuat aku nyengir.
“Hehe.. aku juga udah lama nggak berkutat sama dapur Bim. Kamu udah selesai?” aku menunjuk troli yang di bawanya.
“Udah kok. Ayo ke kasir. Kita bayar belanjaannya, aku yang bayar.” Bima mengedipkan sebelah matanya.
“Hai Bima? Hai Cessa?” aku menoleh ke sumber suara yang ternyata di belakang kami, dia juga sedang antre membayar.
“Hai Anggun.” Aku tersenyum kecil melihat tatapan bersalah darinya. Memang dia punya salah sama aku? Seingatku enggak deh.
“Kalian mau buat kue?” Anggun menunjuk troli kami.
“Tadinya aku yang belanja buat praktek resep tadi. Ehh.. malah dia yang asik sendiri.” Bima berkata dengan santainya tanpa melihat perubahan raut mukaku. Aku kamu? Apa mereka sangat dekat? Mereka seperti orang pacaran? Tapi aku yang pacarnya Bima.
“Mbak, sudah selesai.” Ucapan penjaga kasir membuyarkan pikiran burukku. “Ahh iya. Berapa mas?” ucapku kikuk.
“Enam ratus lima puluh dua ribu.” Ucap mas itu sambil tersenyum ramah. “Bim, aku tunggu sambil duduk ya?” telingaku panas mendengar gurauan mereka berdua yang seperti tidak peduli dengan kehadiranku.
“Iya.” Jawab Bima acuh padaku. Aku duduk dengan lesu, tapi kembali kutegapkan tubuhku begitu melihat pemandangan langka yang ditangkap mataku. Di toko baju wanita, ada Angga yang sedang menemani seorang wanita cantik dengan kulit sedikit kecoklatan, mungkin dia suka plahraga. Apa dia pacarnya? Bisa jadi. Tadi dia marah-marah karena aku protes soal hari lesku. Dia terlihat sangat lelah dan mengantuk, apa pacarnya tidak merasakan. Wait… kenapa aku peduli? Terserah dia saja. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Pacar yang aku tunggu malah asik makan es krim di kedai dekat meja kasir dengan canda tawa. Kalau memang dia sudah bosan denganku, kenapa tidak minta putus saja? Aku tau aku gadis membosankan. Air mata yang sedari tadi kubendung leleh sudah. Aku menghentikan taxi dan melaju ke rumahku.
****
          “Kenapa Ces?” Tanya Beni begitu aku sampai di lantai tiga rumahku. “Ben.” Aku berlari memeluknya yang tengah asik bermain PS di ruangan free itu.
“Ada apa? Siapa yang berani bikin kamu nangis?” Tanya Beni dengan nada khawatir.
“Apa mungkin, Bima sudah bosan denganku?” tanyaku sambil memandangnya nanar.
“Apa maksudmu? Apa yang dia lakukan princess?” Beni menghapus airmata yang mengalir di pipiku.
“Dia melupakanku saat bertemu Anggun. Bahkan, dia makan es krim sendiri tanpa peduli aku yang menunggunya lama.” Aku kembali sesenggukan dan memeluk Beni. Aku tidak peduli tshirt yang digunakannya basah. Aku sakit hati sekarang, yang kutau Bima adalah sosok lelaki setia yang anti selingkuh. Apa aku salah menilainya?
“Kenapa Cessa nangis?” suara papi membuatku melepas pelukan hangat Beni. “Pi? Cessa kurang apa sih?” aku berganti memeluk papi yang baru keluar dari ruang koleksiku dan Beni.
“Kamu nggak kurang apapun princess, kamu sempurna di mata papi.” Papi mencium pucuk kepalaku sayang.
“Aku bisa apa kalau Bima selingkuh?” aku menatap papi yang sedang menahan emosinya. Aku tau karena wajahnya memerah dengan rahang terkatup rapat.
“Siapapun yang berani menyakiti kamu, dia harus siap mati di tangan papi.” Papi melepas pelukanku dan mengkode Beni untuk mengikutinya turun. Aku yakin, papi pasti merencanakan sesuatu. Aku berjalan gontai ke kamar dan meneruskan tangisku yang sempat terhenti.
“Cessa cantik!!! Ayo jalan-jalan.” Tiba-tiba, aku mendengar Luna berteriak di samping telingaku.
“Suara lho berisik.” Bentakku marah. Dia terdiam mendengar bentakanku. “Sorry Lun. Gue lagi bad mood banget.” Aku duduk di sampingnya.
“Nggak papa Ces. Soal Bima ya? Gue tadi denger Om Iza marah-marah di ruang kerjanya. Dia sempet bentak gini, kalau Cessa nggak bisa miliki dia, jangan harap orang lain bisa.” Luna memelukku menenangkan. Apa yang akan papi lakukan pada Bima.
“Makan siang!!” teriak mami ceria. Mungkin dia baru belanja di butik langganannya. Aku dan Luna berlari menuruni tangga dan tersenyum lebar begitu menyadari ada Leon, sepupu tertampanku duduk manis di samping Kiya.
 “Leo!!” teriakku berlari memeluknya dari belakang.
“Hai princess?” sapa Leon hangat padaku, sejenak aku melupakan masalah Bima.
“Kapan pulang dari Aussie?” tanyaku sambil duduk di kursi kosong.
“Baru kemarin.” Leon tersenyum sambil menatapku sedih, dia pasti sudah tau perihal Bima.
“Ohh iya Ces, gimana guru privatnya?” Tanya mami sambil mengambilkan nasi untuk papi.
“Dia jutek, nyebelin.” Jawabku kesal, memang benarkan?
“Tapi ganteng kan?” goda mami sambil memainkan bulu mata lentiknya. “Percuma. Aku nggak tertarik.” Jawabku acuh.
“Dan lebih tertarik sama lelaki tukang selingkuh?” sambung papi yang membuatku tidak napsu makan. Aku berdiri dan berjalan menaiki tangga. “Cessa!!!” teriak papi, mungkin dia merasa bersalah. Aku masuk ke ruang koleksi dan langsung disambut dengan lukisan keluarga kami yang sedang tertawa lebar. Di sampingnya ada lukisan dimana papi sedang meminum teh dan tangan satunya membawa Koran. Aku tersenyum mengingatnya, itu adalah lukisan pertama hasil karya Beni dan aku sepulang dari Paris. Karena sangat senang bisa melukis, kami berduet melukis papi yang tidak menyadari keusilan kami.
“Cessa?” papi masuk dan berdiri di sampingku. Aku berjalan keluar dari ruangan itu dan masuk ke kamar, tidak lupa mengunci pintu agar papi tidak bisa masuk. Aku tau, Bima tidak seperti yang aku pikirkan, tapi bisakan menghargaiku sedikit? Apa mereka tidak tau kalau aku sedang sakit hati? Lamunanku terbuyar ketika mendengar iphoneku berbunyi. Syifa yang menelepon,
“Hallo assalamualaikum?” jawabku dengan suara serak.
“Waalaikum salam. Kamu udah putus sama Bima Ces?” Tanya Syifa santai. “Kok nanya gitu?” tanyaku sedikit ketus.
“Kamu di rumah? Bisa ke kampus sekarang? Aku lihat Bima dan Anggun..” sebelum Syifa menyelesaikan bicaranya, aku langsung menyambar tas kecil selempangku dan berlari menuruni tangga. Meninggalkan papi yang masih duduk di ruang free.
“Mau kemana Ces?” Tanya Kiya yang sepertinya baru pulang.
“Ada urusan.” Aku memanggil Rubby dan menyuruhnya ngebut menuju kampus.
****
          Aku berjalan cepat menuju dapur kampus, tempat anak-anak fakultas koki bercengkrama. Aku berhenti melangkah, di depan pintu masuk ada Bima dan Anggun yang sedang berpelukan mesra.
“Lagi asik ya?” tanyaku pura-pura kuat.
“Ce.. Cessa?” ucap Anggun terbata-bata, iyalah. Ketahuan selingkuh siapa yang nggak malu?
“Lagi sibuk ya? Sorry gue ganggu. Mau cari pacar gue yang katanya setia lihat nggak?” aku berjalan pergi setelah mengatakan itu. Menangis lagi ketika Bima berhasil mencekal tanganku.
“Dengerin aku dulu.” Kata Bima sambil membalik tubuhku yang membelakanginya.
“Aku udah pernah bilangkan? Kalau kamu udah bosan sama aku, putusin hubungan kita. Aku nggak suka diselingkuhin.” Bentakku pada Bima.
“Aku takut kamu sakit hati. Aku bukannya bosan, kamu memang bukan typeku Ces.” Kata Bima sambil menunduk. Bukan typenya ya? Ohh.. aku baru ingat, selama pacaran, dia memang tidak pernah mengatakan kalau mencintaiku.
“Lalu?” tanyaku acuh.
“Aku pingin punya pacar yang jago masak, bukan gambar. Karena cita-citaku ingin mengelola restoran bersama istriku kelak.” Jawab Bima bergetar. Aku tau, dia hanya takut kalau papi murka.
“Maksud kamu koki? Jadi, kamu milih Anggun yang calon koki? Inget ya Bim, walaupun aku nggak masuk di fakultas koki, tapi masakanku lebih enak dari siapapun. Bahkan, dosen yang mengajar kalian pun kalah sama masakanku.” Aku membentaknya lagi, alasan sepele bisa membuat Bima berpaling? Baiklah, mungkin dia memang bukan jodohku.
“Kamu jangan sombong Ces. Anggun juga pintar memasak. Bahkan dia punya sifat lembut yang melebihi kamu.” Ucapan Bima barusan seperti kutukan bagiku. Lembut? Siap-siap saja kehilangan dia karena kelembutannya. Seorang perempuan juga harus kuat, mengingat banyak pelecehan sekarang.
“Oke. Berarti kita putus.” Aku membalikkan badan dan berlari pergi. Hatiku sangat sakit, sakit melihat dia selingkuh. Aku juga wanita yang mudah rapuh.
****
          Aku berjalan gontai masuk ke rumah. Ku dengar suara ramai di ruang keluarga, mungkin para pemuda sedang berkumpul. Aku menaiki tangga pelan dan menemukan Beni, Luna, Kiya, Leon, Robi, dan ohh tunggu. Angga juga, berarti dia sahabatan dengan Beni.
“Malam semua?” sapaku membuat ruangan itu sepi.
“Cessa? Lho kenapa?” Beni berjalan mendekatiku. Bagaimana tidak? Baju putihku penuh dengan darah. Aku tidak membunuh Bima ataupun Anggun. Tapi, aku baru saja berburu bersama Rubby. Kekasih tampanku yang selalu siaga.
“Gue? Emang kenapa?” aku balik bertanya.
“Darah dimana-mana? Lho habis mutilasi orang?” Tanya Beni semakin ngawur. Kulihat sekitar, Robi menatapku nanar, Angga hanya sedikit tersenyum. Dia pasti menertawakan kekonyolanku. Kedua sahabatku juga menatapku sedih. Sedangkan Leon membuang muka.
“Iya. Pinginnya sih mutilasi lho. Ehh.. malah Syifa korbannya.” Aku duduk di samping Leon, karena itu kursi yang kosong.
“Bohong banget.” Jawab Beni yang juga ikutan duduk.
“Pada ngapain sih? Rame amat?” tanyaku mengalihkan topic.
“Main truth or dare.” Jawab Luna semangat. Sejujurnya, aku sangat membenci permainan ini.
“Gue ikut.” Ucapku membuat semua saling pandang. Aku pasti akan dikerjai habis-habisan.
“Robi.” Ucap Luna girang setelah botol itu menunjuk Robi.
“Truth or dare?” Tanya Kiya sambil tersenyum.
“Truth.” Ucapan Robi membuatku melongo. Dia memilih pertanyaan, kulihat Luna sudah siap bertanya.
“Inisial cewek yang lho suka?” tanyaku to the point membuat semua orang menyeringai licik.
“P.” jawaban singkat keluar dari mulut Robi. Luna langsung menunduk lesu. “Oke. Lanjut.” Ucap Leon mencairkan suasana.
“Beni yang kena.” Leon menyeringai licik.
“Heh, gue yang Tanya.” Robi membentak Leon sehingga dia terdiam.
“Berapa jumlah cewek lho?” Robi pintar sekali, seingatku masih enam.
“Gue jomblo.” Beni menjawab santai tapi mampu membuat semua bengong. “Mana mungkin?” protes Leon.
“Gue emang lagi fokus sama satu cewek.” Beni mengedip ke arahku.
“Percaya aja. Daripada panjang.” Ucapku membuat Beni memutar botolnya cepat.
“Luna!” pekik Kiya sambil tersenyum lebar.
“Kenapa lho suka sama Robi?” pertanyaan Beni menuai protes besar dari miss pd itu.
“Kan gue belum milih.” Luna sebal.
“Gue yakin, lho nggak mungkin milih dare kalau gue yang megang kendali. Udah deh, buruan jawab.” Beni menyeringai melihat muka kepiting Luna.
“Dia ganteng.” Celetuk Luna membuat kami semua tertawa, kecuali Angga. Entahlah, cowok itu mungkin sudah putus urat tawanya
 “Ayo lanjut.” Ucap Robi membuang rasa gugupnya.
“Cessa!!” pekikan Luna membuatku tersentak. Aku harus pilih apa sekarang? “Truth aja deh.” Jawabku lesu. Kalau dare, takutnya dia suruh aku makan gorengan, makanan yang paling aku hindari.
“Lho darimana? Apa yang udah terjadi?” pertanyaan Luna membuatku terdiam lama.
“Buruan deh.” Ucap Angga datar.
“Gue dari kampus, habis mutusin Bima.” Ucapku lirih tapi masih mereka dengar.
“APA???? Lho serius??” teriak Luna kaget begitupun Kiya. Aku melihat Robi tersenyum lebar dan Angga juga sedikit tapi. Kenapa dia? Senang melihatku menderita?
“Kok bisa?” Kiya menyambung.
“Privasi. Mana? Gue yang putar.” Aku memutar botol dan berhenti tepat di depan Angga.
Aku menyeringai licik, “Truth or dare?” tanyaku bersemangat.
“Dare.” Angga memilih tantangan. Aku harus memberinya tantangan apa? “Lukis wajah gue, sehari harus jadi. Besok les kan? Gue mau besok.” Ucapanku membuatnya melotot tidak percaya.
“Sehari? Lho gila. Gue nggak punya foto lho.” Ucap Angga sebal walaupun dengan wajah dinginnya.
“Siapa suruh milih dare? Nanti gue kasih fotonya yang paling bagus, deal?” ucapku tak terbantahkan.
“Oke, gue nyerah.” Angga menunduk lesu. Sebenarnya aku ingin dia memilih truth agar tau siapa wanita itu. Ehh.. kenapa aku jadi penasaran? Lupakan Cessa.
“Cessa?” panggilan papi membuat semua orang menoleh ke ujung tangga. Drrt.. drrt.. tepat waktu.
“Hallo? Ini siapa?” jawabku sambil berjalan ke kamar, meninggalkan papi yang mematung.
“An.. Anggun.” Jawab si penelepon gugup. Anggun? Untuk apa dia meneleponku?
“Mau apa?” tanyaku jutek.
“Gue mau minta maaf Ces. Bima ninggalin lho karena gue hamil.” Jawab Anggun merasa bersalah.
“Apa?? Lho jangan ngaco deh.” Bentakku tidak terima.
“Gue serius kok Ces. Gue emang hamil anak Bima. Lho beruntung putus sama dia, karena dia nggak sebaik yang lho kira.” Anggun menangis. Aku menjatuhkan iphone dan tubuhku. Aku harus percaya atau tidak? Mana mungkin Bima begitu? Aku segera mengambil iphone dan menelepon Rubby di bawah.
“Iya nona?” jawab Rubby cepat.
“Cari tau apa bener Anggun hamil.” Perintahku lalu mematikan sambungan. Aku berjalan keluar dengan lemas.
“Kenapa lagi Ces?” Leon bertanya cemas.
“Kayaknya papi mau ngomong.” Aku menunjuk papi yang duduk di tangga. “Papi mau ngomong apa?” aku menepuk pundaknya pelan.
“Ayo ke ruang kerja papi.” Aku berjalan mendahului papi yang ingin merangkulku.
****
          “Kamu marah princess?” Tanya papi begitu masuk di ruang kerja. “Kelihatannya gimana?” tanyaku balik.
“Papi hanya..” ucapan papi aku potong begitu saja.
“Aku nggak permasalahin soal papi yang jelek-jelekin Bima kok. Udahlah, lupain aja kejadian ini.” Aku berjalan keluar diiringi tatapan nanar mami yang berdiri di depan ruangan bersama Beni.
“Nona Cessa?” panggilan Rubby membuatku menoleh cepat.
 “Gimana Rub?” aku mendekat. Dia membisikkan sesuatu di telingaku.
“Kamu yakin Rub?” aku mengumpat-umpat dalam hati.
“Iya nona. Informasi ini akurat.” Rubby pamit pergi. Aku harus bagaimana?
****

          Beni langsung berbaring di sampingku begitu Angga dan Robi pulang. Leon memang masih tinggal disini. Ada beberapa kamar tamu di belakang rumah, rumah dua tingkat khusus kamar tamu.
“Jangan bersikap gini ke papi.” Beni memelukku yang juga berbaring.
“Gue bersikap gimana? Kan udah suruh lupain.” Memangkan? Aku sudah memaafkan papi.
“Papi nggak berangkat kerja hari ini Ces. Seharusnya setelah makan siang tadi dia meeting, tapi gagal karena kamu marah.” Beni mengelus rambutku.
“Aku nggak marah Ben. Cuma kecewa aja papi nggak bisa jaga perasaan aku.” Aku menangis lagi.
“Kenapa kamu bisa putus sama Bima?” Beni mengalihkan pembicaraan, inilah Beni. Begitu aku menangis, pasti langsung mengerti.
“Anggun, cewek yang pernah suka sama lho itu ngrebut cowok gue.” Aku menerawang. Setahun yang lalu, tepat saat aku masuk kampus, Beni memang idola kampus juga. Anggun adalah perempuan pertama yang menyatakan perasaan ke Beni.
“Apa dia mau balas dendam?” pertanyaan Beni membuatku menggeleng cepat. Bukan itu alasannya.
“Bukan itu Ben.” Beni mengernyit bingung kemudian sibuk berpikir lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar