“Namanya
Angga, Angga Neon Kenward.” Beni memperkenalkan lelaki tampan di depanku ini.
Apa mungkin lelaki ini yang menjadi idola kampus nomor satu?
“Dia
seangkatan sama kita?” bukan apa-apa, aku takut salah memanggilnya. “Dia satu
tahun di atas kita. Masa nggak tau? Idola nomor satu di kampus?” Beni tersenyum
menggoda ke arahku. Benarkan tebakanku, dia memang jauh lebih tampan dari Robi
tadi. Bahkan cowokku juga kalah, kalian belum ku kasih tau. Cowokku mengambil
jurusan koki, Bima namanya. Kami sudah berpacaran sejak kelas dua SMA. Dia tipe
cowok setia dan pengertian bagiku.
“Nggak
usah pakek embel-embel. Angga aja. Setiap Hari Sabtu sampai Kamis jam enam
sore.” Ucap Angga tanpa mau memandangku, sangat tidak sopan. Tadi dia bilang
apa? Sabtu? Itukan berarti malam Minggu. Jadwal kencanku dengan Bima.
“Kenapa
harus Sabtu? Nggak ada yang lain?” protesku tidak terima. Enak saja, kalau dia
jomblo dan ngenes, jangan ajak yang lain dong.
“Gue
rela ngorbanin waktu pacar gue buat lho? Impaskan?” Tanya Angga dengan menatap
mataku tajam. Kuralat perkataanku tadi, lebih baik bicara tanpa menatap mataku
saja. Ehh.. dia tidak jomblo ternyata. Kalau dia jomblo, aku pasti sudah
pingsan. Idola nomor satu di kampus masa jomblo? Nggak asik dong.
“Yaudah.”
Jawabku pasrah, aku yakin kalau papi juga pasti setuju.
“Pagi
Cessa? Kamu belum masuk?” sapa Bima yang sudah muncul dihadapanku, tersenyum
dengan senyum andalannya.
“Ohh
iya ya Ces? Apa dosennya ijin?” sahut Syifa yang daritadi terdiam mendengar
perdebatan kecilku dengan Angga, si senior jutek ini.
“Iya
mungkin. Kamu nggak ada kelas Bim?” aku bertanya pada Bima yang memandang Angga
dengan pandangan bertanya, siapa dia.
“Udah
selesai Ces. Cuma nulis resep terus keluar. Kamu ada acara nggak setelah ini?”
Bima kembali memandangku dengan tatapan datar? Kemana tatapan penuh cintanya?
Ohh ayolah Cessa, berfikir positif seperti nasehat Syifa.
“Yaudah.
Kita pergi dulu.” Beni dan Angga pergi meninggalkan kami bertiga. “Aku nggak
ada acara. Kamu mau ajak aku jalan?” tanyaku percaya diri.
“Iya.
Bisakan? Temenin aku belanja buat resep baru tadi.” Ucapan Bima sukses membuat
moodku hancur berantakan. Kalau dia sudah berkutat dengan resep makanan pasti
aku dilupakan.
“Oke
deh. Aku masuk ya? Itu Bu Nada udah jalan kesini.” Aku tersenyum pada Bima dan
mengajak Syifa masuk kelas.
****
Aku sudah berjalan di bagian bahan kue
bersama Bima. Ternyata bukan dia yang melupakan aku tapi sebaliknya. Aku sibuk
sendiri sambil melihat resep di iphoneku.
“Jadi
siapa yang mau masak?” sindir Bima membuat aku nyengir.
“Hehe..
aku juga udah lama nggak berkutat sama dapur Bim. Kamu udah selesai?” aku menunjuk
troli yang di bawanya.
“Udah
kok. Ayo ke kasir. Kita bayar belanjaannya, aku yang bayar.” Bima mengedipkan
sebelah matanya.
“Hai
Bima? Hai Cessa?” aku menoleh ke sumber suara yang ternyata di belakang kami, dia
juga sedang antre membayar.
“Hai
Anggun.” Aku tersenyum kecil melihat tatapan bersalah darinya. Memang dia punya
salah sama aku? Seingatku enggak deh.
“Kalian
mau buat kue?” Anggun menunjuk troli kami.
“Tadinya
aku yang belanja buat praktek resep tadi. Ehh.. malah dia yang asik sendiri.”
Bima berkata dengan santainya tanpa melihat perubahan raut mukaku. Aku kamu?
Apa mereka sangat dekat? Mereka seperti orang pacaran? Tapi aku yang pacarnya
Bima.
“Mbak,
sudah selesai.” Ucapan penjaga kasir membuyarkan pikiran burukku. “Ahh iya.
Berapa mas?” ucapku kikuk.
“Enam
ratus lima puluh dua ribu.” Ucap mas itu sambil tersenyum ramah. “Bim, aku
tunggu sambil duduk ya?” telingaku panas mendengar gurauan mereka berdua yang
seperti tidak peduli dengan kehadiranku.
“Iya.”
Jawab Bima acuh padaku. Aku duduk dengan lesu, tapi kembali kutegapkan tubuhku
begitu melihat pemandangan langka yang ditangkap mataku. Di toko baju wanita,
ada Angga yang sedang menemani seorang wanita cantik dengan kulit sedikit
kecoklatan, mungkin dia suka plahraga. Apa dia pacarnya? Bisa jadi. Tadi dia
marah-marah karena aku protes soal hari lesku. Dia terlihat sangat lelah dan
mengantuk, apa pacarnya tidak merasakan. Wait… kenapa aku peduli? Terserah dia
saja. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Pacar yang aku tunggu malah
asik makan es krim di kedai dekat meja kasir dengan canda tawa. Kalau memang
dia sudah bosan denganku, kenapa tidak minta putus saja? Aku tau aku gadis
membosankan. Air mata yang sedari tadi kubendung leleh sudah. Aku menghentikan
taxi dan melaju ke rumahku.
****
“Kenapa Ces?” Tanya Beni begitu aku
sampai di lantai tiga rumahku. “Ben.” Aku berlari memeluknya yang tengah asik bermain
PS di ruangan free itu.
“Ada
apa? Siapa yang berani bikin kamu nangis?” Tanya Beni dengan nada khawatir.
“Apa
mungkin, Bima sudah bosan denganku?” tanyaku sambil memandangnya nanar.
“Apa
maksudmu? Apa yang dia lakukan princess?” Beni menghapus airmata yang mengalir
di pipiku.
“Dia
melupakanku saat bertemu Anggun. Bahkan, dia makan es krim sendiri tanpa peduli
aku yang menunggunya lama.” Aku kembali sesenggukan dan memeluk Beni. Aku tidak
peduli tshirt yang digunakannya basah. Aku sakit hati sekarang, yang kutau Bima
adalah sosok lelaki setia yang anti selingkuh. Apa aku salah menilainya?
“Kenapa
Cessa nangis?” suara papi membuatku melepas pelukan hangat Beni. “Pi? Cessa
kurang apa sih?” aku berganti memeluk papi yang baru keluar dari ruang
koleksiku dan Beni.
“Kamu
nggak kurang apapun princess, kamu sempurna di mata papi.” Papi mencium pucuk
kepalaku sayang.
“Aku
bisa apa kalau Bima selingkuh?” aku menatap papi yang sedang menahan emosinya.
Aku tau karena wajahnya memerah dengan rahang terkatup rapat.
“Siapapun
yang berani menyakiti kamu, dia harus siap mati di tangan papi.” Papi melepas
pelukanku dan mengkode Beni untuk mengikutinya turun. Aku yakin, papi pasti
merencanakan sesuatu. Aku berjalan gontai ke kamar dan meneruskan tangisku yang
sempat terhenti.
“Cessa
cantik!!! Ayo jalan-jalan.” Tiba-tiba, aku mendengar Luna berteriak di samping
telingaku.
“Suara
lho berisik.” Bentakku marah. Dia terdiam mendengar bentakanku. “Sorry Lun. Gue
lagi bad mood banget.” Aku duduk di sampingnya.
“Nggak
papa Ces. Soal Bima ya? Gue tadi denger Om Iza marah-marah di ruang kerjanya.
Dia sempet bentak gini, kalau Cessa nggak bisa miliki dia, jangan harap orang
lain bisa.” Luna memelukku menenangkan. Apa yang akan papi lakukan pada Bima.
“Makan
siang!!” teriak mami ceria. Mungkin dia baru belanja di butik langganannya. Aku
dan Luna berlari menuruni tangga dan tersenyum lebar begitu menyadari ada Leon,
sepupu tertampanku duduk manis di samping Kiya.
“Leo!!” teriakku berlari memeluknya dari
belakang.
“Hai
princess?” sapa Leon hangat padaku, sejenak aku melupakan masalah Bima.
“Kapan
pulang dari Aussie?” tanyaku sambil duduk di kursi kosong.
“Baru
kemarin.” Leon tersenyum sambil menatapku sedih, dia pasti sudah tau perihal
Bima.
“Ohh
iya Ces, gimana guru privatnya?” Tanya mami sambil mengambilkan nasi untuk
papi.
“Dia
jutek, nyebelin.” Jawabku kesal, memang benarkan?
“Tapi
ganteng kan?” goda mami sambil memainkan bulu mata lentiknya. “Percuma. Aku
nggak tertarik.” Jawabku acuh.
“Dan
lebih tertarik sama lelaki tukang selingkuh?” sambung papi yang membuatku tidak
napsu makan. Aku berdiri dan berjalan menaiki tangga. “Cessa!!!” teriak papi,
mungkin dia merasa bersalah. Aku masuk ke ruang koleksi dan langsung disambut
dengan lukisan keluarga kami yang sedang tertawa lebar. Di sampingnya ada
lukisan dimana papi sedang meminum teh dan tangan satunya membawa Koran. Aku
tersenyum mengingatnya, itu adalah lukisan pertama hasil karya Beni dan aku
sepulang dari Paris. Karena sangat senang bisa melukis, kami berduet melukis
papi yang tidak menyadari keusilan kami.
“Cessa?”
papi masuk dan berdiri di sampingku. Aku berjalan keluar dari ruangan itu dan
masuk ke kamar, tidak lupa mengunci pintu agar papi tidak bisa masuk. Aku tau,
Bima tidak seperti yang aku pikirkan, tapi bisakan menghargaiku sedikit? Apa
mereka tidak tau kalau aku sedang sakit hati? Lamunanku terbuyar ketika
mendengar iphoneku berbunyi. Syifa yang menelepon,
“Hallo
assalamualaikum?” jawabku dengan suara serak.
“Waalaikum
salam. Kamu udah putus sama Bima Ces?” Tanya Syifa santai. “Kok nanya gitu?”
tanyaku sedikit ketus.
“Kamu
di rumah? Bisa ke kampus sekarang? Aku lihat Bima dan Anggun..” sebelum Syifa
menyelesaikan bicaranya, aku langsung menyambar tas kecil selempangku dan
berlari menuruni tangga. Meninggalkan papi yang masih duduk di ruang free.
“Mau
kemana Ces?” Tanya Kiya yang sepertinya baru pulang.
“Ada
urusan.” Aku memanggil Rubby dan menyuruhnya ngebut menuju kampus.
****
Aku berjalan cepat menuju dapur
kampus, tempat anak-anak fakultas koki bercengkrama. Aku berhenti melangkah, di
depan pintu masuk ada Bima dan Anggun yang sedang berpelukan mesra.
“Lagi
asik ya?” tanyaku pura-pura kuat.
“Ce..
Cessa?” ucap Anggun terbata-bata, iyalah. Ketahuan selingkuh siapa yang nggak
malu?
“Lagi
sibuk ya? Sorry gue ganggu. Mau cari pacar gue yang katanya setia lihat nggak?”
aku berjalan pergi setelah mengatakan itu. Menangis lagi ketika Bima berhasil
mencekal tanganku.
“Dengerin
aku dulu.” Kata Bima sambil membalik tubuhku yang membelakanginya.
“Aku
udah pernah bilangkan? Kalau kamu udah bosan sama aku, putusin hubungan kita.
Aku nggak suka diselingkuhin.” Bentakku pada Bima.
“Aku
takut kamu sakit hati. Aku bukannya bosan, kamu memang bukan typeku Ces.” Kata
Bima sambil menunduk. Bukan typenya ya? Ohh.. aku baru ingat, selama pacaran,
dia memang tidak pernah mengatakan kalau mencintaiku.
“Lalu?”
tanyaku acuh.
“Aku
pingin punya pacar yang jago masak, bukan gambar. Karena cita-citaku ingin
mengelola restoran bersama istriku kelak.” Jawab Bima bergetar. Aku tau, dia
hanya takut kalau papi murka.
“Maksud
kamu koki? Jadi, kamu milih Anggun yang calon koki? Inget ya Bim, walaupun aku
nggak masuk di fakultas koki, tapi masakanku lebih enak dari siapapun. Bahkan,
dosen yang mengajar kalian pun kalah sama masakanku.” Aku membentaknya lagi,
alasan sepele bisa membuat Bima berpaling? Baiklah, mungkin dia memang bukan
jodohku.
“Kamu
jangan sombong Ces. Anggun juga pintar memasak. Bahkan dia punya sifat lembut
yang melebihi kamu.” Ucapan Bima barusan seperti kutukan bagiku. Lembut?
Siap-siap saja kehilangan dia karena kelembutannya. Seorang perempuan juga
harus kuat, mengingat banyak pelecehan sekarang.
“Oke.
Berarti kita putus.” Aku membalikkan badan dan berlari pergi. Hatiku sangat
sakit, sakit melihat dia selingkuh. Aku juga wanita yang mudah rapuh.
****
Aku berjalan gontai masuk ke rumah. Ku
dengar suara ramai di ruang keluarga, mungkin para pemuda sedang berkumpul. Aku
menaiki tangga pelan dan menemukan Beni, Luna, Kiya, Leon, Robi, dan ohh
tunggu. Angga juga, berarti dia sahabatan dengan Beni.
“Malam
semua?” sapaku membuat ruangan itu sepi.
“Cessa?
Lho kenapa?” Beni berjalan mendekatiku. Bagaimana tidak? Baju putihku penuh
dengan darah. Aku tidak membunuh Bima ataupun Anggun. Tapi, aku baru saja
berburu bersama Rubby. Kekasih tampanku yang selalu siaga.
“Gue?
Emang kenapa?” aku balik bertanya.
“Darah
dimana-mana? Lho habis mutilasi orang?” Tanya Beni semakin ngawur. Kulihat sekitar,
Robi menatapku nanar, Angga hanya sedikit tersenyum. Dia pasti menertawakan
kekonyolanku. Kedua sahabatku juga menatapku sedih. Sedangkan Leon membuang
muka.
“Iya.
Pinginnya sih mutilasi lho. Ehh.. malah Syifa korbannya.” Aku duduk di samping
Leon, karena itu kursi yang kosong.
“Bohong
banget.” Jawab Beni yang juga ikutan duduk.
“Pada
ngapain sih? Rame amat?” tanyaku mengalihkan topic.
“Main
truth or dare.” Jawab Luna semangat. Sejujurnya, aku sangat membenci permainan
ini.
“Gue
ikut.” Ucapku membuat semua saling pandang. Aku pasti akan dikerjai
habis-habisan.
“Robi.”
Ucap Luna girang setelah botol itu menunjuk Robi.
“Truth
or dare?” Tanya Kiya sambil tersenyum.
“Truth.”
Ucapan Robi membuatku melongo. Dia memilih pertanyaan, kulihat Luna sudah siap
bertanya.
“Inisial
cewek yang lho suka?” tanyaku to the point membuat semua orang menyeringai
licik.
“P.”
jawaban singkat keluar dari mulut Robi. Luna langsung menunduk lesu. “Oke.
Lanjut.” Ucap Leon mencairkan suasana.
“Beni
yang kena.” Leon menyeringai licik.
“Heh,
gue yang Tanya.” Robi membentak Leon sehingga dia terdiam.
“Berapa
jumlah cewek lho?” Robi pintar sekali, seingatku masih enam.
“Gue
jomblo.” Beni menjawab santai tapi mampu membuat semua bengong. “Mana mungkin?”
protes Leon.
“Gue
emang lagi fokus sama satu cewek.” Beni mengedip ke arahku.
“Percaya
aja. Daripada panjang.” Ucapku membuat Beni memutar botolnya cepat.
“Luna!”
pekik Kiya sambil tersenyum lebar.
“Kenapa
lho suka sama Robi?” pertanyaan Beni menuai protes besar dari miss pd itu.
“Kan
gue belum milih.” Luna sebal.
“Gue
yakin, lho nggak mungkin milih dare kalau gue yang megang kendali. Udah deh,
buruan jawab.” Beni menyeringai melihat muka kepiting Luna.
“Dia
ganteng.” Celetuk Luna membuat kami semua tertawa, kecuali Angga. Entahlah,
cowok itu mungkin sudah putus urat tawanya
“Ayo lanjut.” Ucap Robi membuang rasa
gugupnya.
“Cessa!!”
pekikan Luna membuatku tersentak. Aku harus pilih apa sekarang? “Truth aja
deh.” Jawabku lesu. Kalau dare, takutnya dia suruh aku makan gorengan, makanan
yang paling aku hindari.
“Lho
darimana? Apa yang udah terjadi?” pertanyaan Luna membuatku terdiam lama.
“Buruan
deh.” Ucap Angga datar.
“Gue
dari kampus, habis mutusin Bima.” Ucapku lirih tapi masih mereka dengar.
“APA????
Lho serius??” teriak Luna kaget begitupun Kiya. Aku melihat Robi tersenyum
lebar dan Angga juga sedikit tapi. Kenapa dia? Senang melihatku menderita?
“Kok
bisa?” Kiya menyambung.
“Privasi.
Mana? Gue yang putar.” Aku memutar botol dan berhenti tepat di depan Angga.
Aku
menyeringai licik, “Truth or dare?” tanyaku bersemangat.
“Dare.”
Angga memilih tantangan. Aku harus memberinya tantangan apa? “Lukis wajah gue,
sehari harus jadi. Besok les kan? Gue mau besok.” Ucapanku membuatnya melotot
tidak percaya.
“Sehari?
Lho gila. Gue nggak punya foto lho.” Ucap Angga sebal walaupun dengan wajah
dinginnya.
“Siapa
suruh milih dare? Nanti gue kasih fotonya yang paling bagus, deal?” ucapku tak
terbantahkan.
“Oke,
gue nyerah.” Angga menunduk lesu. Sebenarnya aku ingin dia memilih truth agar tau
siapa wanita itu. Ehh.. kenapa aku jadi penasaran? Lupakan Cessa.
“Cessa?”
panggilan papi membuat semua orang menoleh ke ujung tangga. Drrt.. drrt.. tepat
waktu.
“Hallo?
Ini siapa?” jawabku sambil berjalan ke kamar, meninggalkan papi yang mematung.
“An..
Anggun.” Jawab si penelepon gugup. Anggun? Untuk apa dia meneleponku?
“Mau
apa?” tanyaku jutek.
“Gue
mau minta maaf Ces. Bima ninggalin lho karena gue hamil.” Jawab Anggun merasa
bersalah.
“Apa??
Lho jangan ngaco deh.” Bentakku tidak terima.
“Gue
serius kok Ces. Gue emang hamil anak Bima. Lho beruntung putus sama dia, karena
dia nggak sebaik yang lho kira.” Anggun menangis. Aku menjatuhkan iphone dan
tubuhku. Aku harus percaya atau tidak? Mana mungkin Bima begitu? Aku segera
mengambil iphone dan menelepon Rubby di bawah.
“Iya
nona?” jawab Rubby cepat.
“Cari
tau apa bener Anggun hamil.” Perintahku lalu mematikan sambungan. Aku berjalan
keluar dengan lemas.
“Kenapa
lagi Ces?” Leon bertanya cemas.
“Kayaknya
papi mau ngomong.” Aku menunjuk papi yang duduk di tangga. “Papi mau ngomong
apa?” aku menepuk pundaknya pelan.
“Ayo
ke ruang kerja papi.” Aku berjalan mendahului papi yang ingin merangkulku.
****
“Kamu marah princess?” Tanya papi
begitu masuk di ruang kerja. “Kelihatannya gimana?” tanyaku balik.
“Papi
hanya..” ucapan papi aku potong begitu saja.
“Aku
nggak permasalahin soal papi yang jelek-jelekin Bima kok. Udahlah, lupain aja
kejadian ini.” Aku berjalan keluar diiringi tatapan nanar mami yang berdiri di
depan ruangan bersama Beni.
“Nona
Cessa?” panggilan Rubby membuatku menoleh cepat.
“Gimana Rub?” aku mendekat. Dia membisikkan
sesuatu di telingaku.
“Kamu
yakin Rub?” aku mengumpat-umpat dalam hati.
“Iya
nona. Informasi ini akurat.” Rubby pamit pergi. Aku harus bagaimana?
****
Beni
langsung berbaring di sampingku begitu Angga dan Robi pulang. Leon memang masih
tinggal disini. Ada beberapa kamar tamu di belakang rumah, rumah dua tingkat
khusus kamar tamu.
“Jangan bersikap gini ke papi.” Beni memelukku yang
juga berbaring.
“Gue bersikap gimana? Kan udah suruh lupain.” Memangkan?
Aku sudah memaafkan papi.
“Papi nggak berangkat kerja hari ini Ces. Seharusnya
setelah makan siang tadi dia meeting, tapi gagal karena kamu marah.” Beni
mengelus rambutku.
“Aku nggak marah Ben. Cuma kecewa aja papi nggak bisa
jaga perasaan aku.” Aku menangis lagi.
“Kenapa kamu bisa putus sama Bima?” Beni mengalihkan
pembicaraan, inilah Beni. Begitu aku menangis, pasti langsung mengerti.
“Anggun, cewek yang pernah suka sama lho itu ngrebut
cowok gue.” Aku menerawang. Setahun yang lalu, tepat saat aku masuk kampus,
Beni memang idola kampus juga. Anggun adalah perempuan pertama yang menyatakan
perasaan ke Beni.
“Apa dia mau balas dendam?” pertanyaan Beni membuatku
menggeleng cepat. Bukan itu alasannya.
“Bukan itu Ben.” Beni mengernyit bingung kemudian
sibuk berpikir lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar