Jumat, 13 November 2015

The New BAB..

BAB 2
          Cessa memeluk Izama dari belakang, papinya itu sedang membaca Koran. “Papi masih mikirin Cessa?” Tanya Cessa manja.
“Papikan selalu memikirkan Cessa.” Iza lega melihat anaknya tidak marah lagi. “Ahh.. ribet. Aku mau sepeda ducati pi.” Cessa nyengir.
“Buat apa?” Iza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Baru kemarin anaknya putus dan pagi ini sudah meminta yang aneh-aneh.
“ Mami baru pulang?” Cessa memeluk lengan Airi yang baru pulang dari swalayan.
“Iya.” Airi tersenyum lembut.
“Mi, papi nggak mau beliin aku ducati.” Cessa cemberut.
“Nanti mami yang bujuk oke?” Airi mengelus rambut Cessa lembut.
“Makasih mami.” Cessa mencium pipi Airi dan berlari ke area parkir, karena Beni sudah menunggunya.
“Pi, beneran nggak mau?” Airi menatap Iza tajam.
“Mami sayang, bukannya papi nggak mau.” Iza menyuruh Airi duduk.
“Nggak usah ngerayu. Kalau kamu nggak mau aku juga nggak mau.” Airi masuk ke rumah. Iza mengacak rambutnya frustasi, Cessa pasti sengaja melakukannya.
****
          “Katanya mau kenalin?” Tanya Beni saat berjalan dengan Cessa di koridor kampus.
“Udah kenal kan?” Cessa jutek.
“Ces.” Angga berhenti di depan mereka.
“Kenapa?” Cessa bingung.
“Pesenan lho.” Angga memberikan bingkisan ke Cessa.
“Wahh.. makasih. Tapi, guekan belum kasih fotonya Ngga?” Cessa ragu.
“Lho lihat dulu hasilnya Ces. Udah ya? Gue mau ke kelas sama Angga.” Beni dan Angga pergi. Cessa membuka bingkisan dari Angga cepat. Dia tertegun, foto candid saat di Paris. Tapi, dia tidak pernah difoto seperti ini.
“Ces, lho ngapain disini sendirian?” Kiya menepuk pundak Cessa.
“Ehh.. nggak papa.” Cessa nyengir lucu.
“Lho udah denger? Beasiswa Anggun dicabut?” Luna.
“Hah?” Cessa kaget. Apa ini ulah papinya lagi.
“Gue jadi inget ucapan bokap lho yang kalau Cessa nggak bisa miliki berarti yang lain juga enggak.” Luna.
“Terus, Bima juga dicabut beasiswanya. Lho nggak bakal dimusuhi anak-anak kok. Itukan memang salah mereka, lho korbannya.” Kiya merangkul bahu Cessa dan membawanya ke kelas.
****
          “Ada anak baru. Dia ngaku pacarnya kak Angga.” Syifa menunjuk bangku pojok depan.
“Emang bener, mungkin. Gue pernah lihat mereka jalan bareng kok.” Jawab Cessa santai.
“Ohh ya? Matanya sipit kayak kakakmu Ces. Sayang dia sombong.” Syifa cemberut.
“Mana yang namanya Cessa?” pacar Angga itu berdiri.
“Gue. Kenapa?” Cessa mengacungkan tangan.
“Ohh lho ya? Orang yang merusak malam Minggu gue.” Pacar Angga itu mendorong tubuh Cessa dan berlalu pergi.
“Dia bukan anak desainer.” Kelvin menyahut.
“Terus anak mana?” Cessa sudah emosi.
“Tenang Ces.” Luna menenangkan.
“Dia anak sekretaris.” Kelvin.
“Sekelas sama gue dong? Siapa namanya?” Kiya sebal.
“Anggi Kenward.” Kelvin pergi.
“Kenward? Bukannya itu marganya Angga?” batin Cessa.
“Kenapa Ces?” Luna.
“Nggak papa.”
“Ayo pulang? Ada kelas emang?” ajak Beni.
“Nggak ada sih. Tapi, lho pulang dulu deh.” Cessa ingin melewati koridor fakultas koki.
“Mau ngapain? Jangan pulang malam. Hari ini ada les.” Beni mengingatkan. “Ayo Lun, Ki. Duluan ya Syif?” Cessa pergi bersama kedua sahabatnya. “Kamu mau pulang Syif?” Tanya Beni lembut.
“Iya. Duluan Ben.” Syifa pergi dengan senyum merekah.
          “Ngapain lewat sini? Muter tau.” Keluh Kiya.
“Itu Bima sama Anggun.” Luna menunjuk dua orang yang sedang menunduk sedih.
“Cessa Bim.” Bisik Anggun.
“Ces?” Bima dan Anggun mendekat.
“Ada yang bisa gue bantu?” Cessa acuh.
“Kenapa lho lakuin ini?” Anggun menangis.
“Apa?” Cessa tau, pasti soal beasiswa.
“Lho nggak terima Bima pacaran sama gue?” Anggun membentak Cessa.
“Loh, gimana? Katanya gue beruntung pisah dari Bima? Lho hamil anak diakan?” Cessa melihat Bima membelalakkan mata. Anggun kira, dia nggak tau kalau persoalan hamil itu bohong.
“Apa maksud kamu Ces?” Bima tidak mengerti.
“Tanya dia aja. Dan satu lagi, kalau maksud lho soal beasiswa, gue nggak ikut campur.” Cessa, Luna, dan Kiya berjalan pergi.
“Kamu bohongin Cessa?” Bima menahan emosi yang sedang bergejolak di dalam dirinya.
“Aku nggak mau kamu berpaling dari aku Bim.” Anggun menunduk.
“Dengerin aku sayang, aku nggak bakal tinggalin kamu.” Bima menangkup wajah Anggun dengan kedua tangannya.
“Maafin aku udah jelek-jelekin kamu di depan Cessa. Aku nggak bermaksud begitu.” Anggun berusaha tersenyum walau sekarang kepalanya pusing. Dia harus mengatakan apa nanti, beasiswanya sudah dicabut.
“Kamu cinta sama aku Bim?” Anggun memandang Bima.
“Aku cinta sama kamu Nggun.” Bima memeluk Anggun.
****
          Cessa berlari sambil menangis. Dia tidak pergi, dia ijin ke toilet pada kedua sahabatnya. Dia melihat Bima mengatakan cinta, dia melihatnya. Hati yang sudah pecah berkeping, menjadi debu sekarang. Hatinya sakit, dia belum merelakan Bima sepenuhnya. Brukk..
“Sorry.” Ucap Cessa sambil menghapus airmatanya.
“Kenapa Ces?” Robi orang yang ditabrak Cessa.
“Nggak papa.” Cessa tersenyum tapi terpaksa.
“Serius? Mau cerita?” Robi mengelus rambut Cessa.
“Nggak perlu. Gue nggak mau Luna marah.” Cessa cuek.
“Kenapa Luna?” Robi bingung.
“Syif!!” Cessa berlari mengejar Syifa yang berjalan ke mobilnya.
“Hei Ces, kenapa? Kamu habis nangis?” Syifa menghapus sisa airmata Cessa. Cessa hanya tersenyum dan menatap Syifa nanar.
“Ayo duduk.” Syifa mengajak Cessa duduk di kursi belakang mobilnya. “Cerita sama aku.” Syifa mengedikkan dagunya.
“Bima bilang cinta ke Anggun Syif. Aku yang udah jadi pacarnya empat tahun aja nggak pernah.” Cessa menangis lagi.
“Kalau dia nggak pernah bilang cinta, kenapa kalian bisa pacaran?” Syifa bingung, bukannya awal pacaran adalah menyatakan perasaan.
“Dia hanya mengatakan sayang dan langsung nembak aku Syif. Mungkin, aku yang kepdan dan langsung nerima dia.” Cessa menunduk.
“Mungkin, tuhan emang nggak bolehin kamu sama dia. Pasti ada yang lebih baik dari dia yang tuhan siapkan untuk princess di depanku ini. Udah, jangan sedih lagi ya? Keep smile.” Syifa tersenyum.
“Makasih Syif. Lho emang pendengar yang baik.” Cessa memeluk Syifa singkat.
“Buat apa sih nangisin Bima? Dia nggak pantes kamu tangisin.”
“Iya. Aku keluar deh. Kamu mau pulangkan?” Cessa mendorong pintu tanpa melihat kalau ada yang terdorong pintu mobil Syifa.
“Woyy!!! Lihat-lihat dong.” Bentak Anggi.
“Lho kena? Sorry.. sorry.” Cessa memohon.
“Emang ya, lho itu selalu ngerusak kebahagiaan gue.” Bentak Anggi lagi.
“Gue ngerusak? Kita baru bertemu hari ini. Apa yang gue rusak? Cuma malam Minggu lho kan? Gue nggak buang buku lho, gue nggak bunuh bonyok lho, gue nggak ngambil permen lho. Terus, kebahagiaan apa yang gue ambil hah?” bentak Cessa, dia sudah tidak bisa menahan emosinya sekarang.
“Jaga mulut lho.” Angga datang dengan wajah dinginnya.
“Gue? Gue ngomong apa adanya.” Cessa acuh.
“Nggak usah bentak-bentak bisakan?” bentak Angga emosi.
“Dia yang bentak gue duluan. Gue udah minta maaf karena nggak sengaja dorong dia pakek pintu. Kenapa dia malah bentak gue dan bilang gue ngerusak kebahagiaan dia? Kita baru ketemu sekarang, kenalan aja belum.” Cessa frustasi, semua perkataannya benar.
“Tapi, ngomong pelan bisa kan?” Angga datar.
“Lho emang pacarnya sih, jadi salah nggak salah dibela terus. Manja namanya.” Cessa berteriak tertahan di depan Anggi.
“Gue udah bilangkan, jaga bicara lho.” Angga menatap Cessa tajam.
“Oke. Sekarang gue tanya, kebahagiaan apa yang udah gue ambil?” Cessa menatap Anggi meminta jawaban.
“Ayo jawab.” Luna sudah berdiri di belakang Cessa bersama Kiya. Anggi hanya menunduk tidak tau mau menjawab apa.
“Lihatkan? Dia yang asal ngomong.” Cessa menatap Angga sambil tersenyum mengejek.
“Ayo pulang.” Angga ingin menarik Anggi tapi ditahan Kelvin.
“Mau lari dari masalah? Daritadi pacar lho bikin rusuh mulu.” Kelvin menatap dua orang di depannya tajam.
“Dia ngapain lho?” Angga datar.
“Dia ngacak-acak kelas gue. Dia juga ngebentak Cessa. Dia saiko? Gue butuh alasan soal itu.” Kelvin santai.
“Dia bukan saiko, brengsek!!” Angga menonjok Kelvin emosi.
“Kelvin, lho nggak papa?” Cessa berjongkok di samping Kelvin yang tersungkur.
“Nggak papa.” Kelvin tersenyum sambil menatap Cessa dalam. Angga menarik Anggi pergi.
“Kenapa?” Cessa salah tingkah.
“Lho pulang sama siapa?”
“Sendiri.” Cessa membantu Kelvin berdiri.
“Gue anter ya?” Kelvin memohon.
“Gue lagi pingin sendiri Kel.” Cessa tersenyum dan berjalan pergi.
****
          Beni duduk di ruang tamu dengan Luna dan Kiya. “Om Iza Ben yang cabut beasiswa itu?” Kiya memulai pembicaraan.
“Itu usul rector Kiy. Prestasi mereka menurun drastic semester empat ini. Papi iya aja, karena dia juga lagi kesel sama Bima.” Beni membaca buku tebal di tangannya.
“Emang daridulu Bima bodoh.” Luna sebal. Beni dan kiya tertawa keras.
“Lho lagi galau Lun? Kok ngolok Bima bodoh.” Kiya.
“Iya. P itu siapa sih Ben?” Luna merajuk.
“Gue juga nggak tau Lun. Di kelas gue nggak ada nama P. Di kelas Robi juga nggak ada. Gue juga lagi nebak-nebak.” Beni menutup bukunya.
“P itu bikin gue galau. Gue emang terlalu pd ya?” Luna menunduk.
“Kalau gue mikirnya Robi yang phpin lho. Dia sering muji lho, dia juga sering ngajak lho keluar.” Kiya memberi pendapat. Beni diam, Robi tidak pernah begitu sebelumnya.
“Gue juga ngerasa begitu Ki. Kita ketemuan yang dia bahas Cessa terus. Apa mungkin Cessa yang dia suka?” Luna menatap Kiya sedih, cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Mana mungkin? Tapi, kalau iya, Cessa nggak bakal mau kok Lun. Dia nggak mungkin pacaran sama orang yang disukai sahabatnya.” Beni menenangkan. “Siang semua?” Robi muncul dari pintu utama. Luna dan Kiya berjalan pergi dan disaat yang bersamaan Leon muncul.
“ Ngapain lho kesini?” Beni jutek.
“Lho lagi dapet? Main lah Ben.” Robi tertawa mengejek.
“Gue mau tanya serius sama lho.” Beni menatap Robi serius.
“Nanya Apa?” Robi duduk.
“Lho suka sama Cessa?”
“Hah?” Robi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Gue nggak lagi bercanda.” Beni membuang muka, sepertinya tebakannya benar.
“P itu bisa jadi princess kan? Panggilan sayang Cessa.” Leon menyahut.
“Gue emang suka sama Cessa.” Robi menunduk. Prangg.. mereka semua menoleh dan menemukan Luna tersenyum getir.
“Lun?” Leon cemas.
“Om Iza!!!” Luna berjalan menaiki tangga.
“Kenapa? Gue salah suka sama orang?” Robi bertanya dengan wajah tidak bersalahnya.

“Cara lho yang salah, memanfaatkan Luna? Pengecut banget Rob.” Beni mengacak rambutnya frustasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar